Rabu, 20 Mei 2020

Makalah Mengenai Studi Kasus Humas dalam suatu Organisasi, Instansi atau Perusahaan

PERANAN HUMAS DALAM MEMBANGUN CITRA 
PERUSAHAAN DAERAH AIR MINUM (PDAM) 
JAYAPURA

Disusun Oleh    ;
Nama                 : Rezza Andriansyah
Fakultas             : Ilmu Komunikasi
NIM                    : 183124350020007
Mata kuliah       : Organisasi Humas
Dosen                : Enfant Lasut, S.ST, M.Ikom.


     PROGRAM STUDI ILMU KOMUNIKASI
          FAKULTAS ILMU KOMUNIKASI
          UNIVERSITAS MPU TANTULAR





KATA PENGANTAR



Puji syukur kami panjatkan kepada Tuhan Yang Maha Kuasa atas terselesaikannya makalah yang berjudul Peranan Humas Dalam Membangun Citra Perusahaan Daerah Air Minum (PDAM) JAYAPURA  . Makalah yang masih perlu dikembangkan lebih jauh ini diharapkan dapat memberikan manfaat bagi semua pihak yang membacanya.
Makalah ini dibuat dalam rangka memenuhi salah satu tugas mata kuliah Organisasi Humas Indonesia pada prodi Ilmu Komunikasi, Fakultas Ilmu Komunikasi Universitas Mpu Tantular.
Ucapan terima kasih kami sampaikan kepada Ibu Enfant Lasut, S.ST, M.Ikom. selaku dosen mata kuliah Organisasi Humas Indonesia. Kami menyadari bahwa makalah ini masih memiliki kekurangan, oleh karena itu penulis sangat mengharapkan kritik dan saran yang konstruktif, terutama dari Ibu/Bapak pembimbing dan teman-teman.



Jakarta,21 Mei 2020 

           Penulis


ABSTRAK 
Public Relations yang ada dan dikenal pada saat sekarang ini, secara sederhana 
disebut Hubungan Masyrakat atau disingkat dengan Humas. Public relations 
muncul karena adanya tuntutan kebutuhan. Artinya menjadi hal yang utama bagi 
public relations untuk mampu menjalankan salah satu fungsi dan tugasnya yaitu 
membina hubungan yang harmonis antara pimpinan manajemen dengan para 
karyawan dan antara pimpinan dengan pemilik perusahaan atau sebaliknya. Begitu 
juga kemampuannya untuk menjembatani atau membangun komunikasi dengan 
masyarakat luar sebagai publik yang pada akhirnya dapat menentukan sukses 
atau tidaknya tujuan dan citra yang hendak dicapai oleh perusahaan. 
PDAM Jayapura sebagai salah satu perusahaan potensial negara yang juga 
merupakan perusahaan besar yang bergerak dalam bidang jasa dan pelayanan yang 
memberikan jasa air bersih. Tapi pada kenyataannya masih terdapat masalah yang 
dilatarbelakangi oleh adanya saluran air yang tidak lancar bahkan tidak sama sekali, 
kualitas air berkurang, penyalahgunaan pemanfaatan air yang tidak baik. Untuk itu 
bagi peneliti masalah ini perlu diangkat dan dikaji lebih dalam,sehingga ditarik judul "Peran Humas Dalam Membangun Citra Perusahaan Daerah Air Minum PDAM Jayapura." dengan tujuan mengetahui sejauh mana peran humas dalam membangun citra perusahaan. 
Penelitian ini menggunakan teori Model/Citra yakni serangkaian 
pengetahuan, pengalaman, perasaan, (emosi) dan penilaian yang diorganisasikan 
manusia atau pengetahuan pribadi yang sangat diyakini kebenarannya. Metode 
yang digunakan adalah deskriptif dengan memaparkan situasi dan peristiwa. 
Hasil penelitian menyatakan bahwa peran humas PDAM mampu 
mengangkat citra perusahaan dengan cara menanamkan kepercayaan kepada 
pelanggan melalui memberian pelayanan yang profesional.

      BAB I
      PENDAHULUAN

I.I Latar Belakang Masalah 
Public Relations yang ada dan dikenal pada saat sekarang ini, secara sederhana 
disebut Hubungan Masyrakat atau disingkat dengan Humas. Public relations muncul 
karena adanya tuntutan kebutuhan. Artinya menjadi hal yang utama bagi public 
relations untuk mampu menjalankan salah satu fungsi dan tugasnya yaitu 
membina hubungan yang harmonis antara pimpinan manajemen dengan para 
karyawan dan antara pimpinan dengan pemilik perusahaan atau sebaliknya. Begitu 
juga kemampuannya untuk menjembatani atau membangun komunikasi dengan 
masyarakat luar sebagai publik yang pada akhirnya dapat menentukan sukses 
atau tidaknya tujuan dan citra yang hendak dicapai oleh perusahaan. 
Cita-cita yang telah dirumuskan dalam UUD 1945 dan Visi Indonesia 2020, 
penggalangan segala potensi patut kita berdayakan. Salah satu diantaranya 
mengoptimalkan penggunaan air sesuai dengan amanat psal 33 UUD 1945 ayat (3) 
yaitu "Bumi dan air kekayaan alam yang terkandung didalamnya dikuasai oleh 
negara dan dipergunakan untuk sebesar-besarnya kemakmuran rakyat". Perangkat 
hukum lainnya yang mengatur pemanfaatan air juga dituangkan dalam UU No.32 
Tahun 2004 Tentang Pemerintahan Daerah, UU No.5 Tahun1962 Tentang BUMD 
(PDAM), Peraturan Pemerintah No.14 Tahun 1987 Tentang Desentralisasi Suplai Air 
Bersih, Peraturan Daerah No. 3 Tahun 1979 Tentang PDAM. 
Salah satu upaya untuk mempengaruhi percepatan kesejahteraan masyarakat 
di republik ini tersedianya air bersih. Sebab air adalah urat nadi dan sumber 
kehidupan atau materi yang paling essential didalam kehidupan umat manusia. 
Tegasnya, tidak ada satupun mahluk hidup yang berada diplanet bumi ini yang tak 
membutuhkan air. 
Pertumbuhan penduduk dan industri mempertinggi kesenjangan antara 
permintaan dan penawaran air, khususnya terhadap air bersih. Dengan 
bertambahnya penduduk konsumsi terhadap air bersihpun akan semakin meningkat. 
Dimasa lalu manusia membutuhkan air bersih hanya untuk keperluan mandi, minum 
dan pertanian. Akan tetapi saat ini kebutuhan air sudah mencakup untuk kebutuhan 
industri. Konsumsi air bersih rata-rata disebuah kota besar yang modern diperkirakan 
sekitar 2000 liter perkapita per hari, yang meliputi konsumsi untuk keperluan publik 
dan keperluan industry. 
Sejak digulirkannya Undang-Undang No. 7 Tahun 2004 tentang sumber Daya 
Air dan Peraturan Pemerintah No. 16 Tahun 2005 Tentang Sistem Penyediaan Air 
Minum. Pada pasal 46 ayat (3) dalam PP ini secara tegas dikatakan "Bahwa partisipasi swasta bisa dilakukan dalam keseluruhan tahapan penyediaan air minum" , artinya 
privatisasi air minum di Indonesia semakin terbuka. Kebijakan regulator ini 
merupakan peluang sekaligus ancaman untuk berkompetisi. Penyediaan air bersih 
terutama yang memenuhi syarat higienis akan dapat memperbaiki kesehatan dan 
kesejahteraan masyarakat. Penyediaan air bersih umumnya dilakasanakan oleh 
pemerintah. Perusahaan penyediaan air minum memerlukan biaya yang cukup besar,
sehingga tingkat efisiensi baru dapat dicapai bila skala produksinya besar (Large Scale 
of Production). 

PDAM Papua Jayapura sebagai salah satu perusahaan potensial negara yang 
juga merupakan perusahaan besar yang bergerak dalam bidang jasa dan pelayanan 
yaitu Perusahaan Daerah Air Minum (PDAM) Jayapura yang memberikan jasa air 
bersih. Dalam memenuhi kebutuhan masyarakat akan air bersih ini tentu termasuk
kedalam salah satu usaha Perusahaan Daerah Air Minum (PDAM) Jayapura dalam 
meningkatkan citra perusahaannya di mata masyarakat. 
Perusahaan Daerah Air Minum (PDAM) Kabupaten Jayapura merupakan salah 
satu badan usaha milik Daerah yang bergerak dibidang pelayanan dan jasa air bersih,
sebagai salah satu perusahaan yang bergerak dibidang pelayanan dan jasa, 
perusahaan tersebut dituntut untuk menjaga mutu pelayanan dan kualitas jasa 
kepada pengguna jasa perusahaan tersebut yang bertujuan agar citra perusahaan 
tetap terjaga, sehingga kepercayaan pengguna jasa perusahaan tersebut tetap 
terjaga pula. PDAM mengambil pasokan air bersih tersebut dari pegunungan, sungai 
dan danau. Dengan menggunakan alat-alat laboraturium sehingga air tersebut dapat 
di konsumsi oleh warga atau hiegenis. 
Berdasarkan definisi di atas, apabila dikaitkan dengan peran dan fungsi Humas 
Perusahaan Daerah Air Minum (PDAM) Jayapura adalah mengadakan upaya 
pelayanan yang baik, berencana dan berkesinambungan untuk menciptakan dan 
membina pengertian bersama antara organisasi dengan khalayak dengan selalu 
membina hubungan yang harmonis serta menciptakan komunikasi dua arah timbal 
balik dengan menyebarkan informasi kepada publik eksternal, sehingga terwujud 
publik yang favorable untuk mendukung kebijaksanaan perusahaan. 
Peranan humas kadangkala tidak dipakai oleh suatu instansi. Didalam suatu 
instansi terkadang ada yang masih melekatkan profesi humas atau suatu badan 
humas dengan badan atau bagian struktur perusahaan yang lain. Seringkali peranan 
humas juga tidak dipakai oleh suatu instansi. Peranan humas belum berjalan dengan 
baik apabila tidak mempunyai struktur tersendiri. 
Publik sasaran didalam humas terbagi menjadi dua, yaitu : Publik internal dan 
publik eksternal. Publik Internal adalah khalayak yang bergiat didalam organisasi yang 
ada pada umumnya merupakan karyawan, sedangkan public eksternal adalah mereka 
yang berada di luar organisasi, tetapi ada hubungannya dengan organiasai. Bertolak 
dari tugas pokok Humas Perusahaan Daerah Air Minum (PDAM) Jayapura diatas, 
pada penelitian ini juga ada hubungan Hubungan Masyarakat dengan publik 
eksternal yaitu masyarakat pelanggan yang ada di Jayapura sebagai suatu bukti 
fenomena permasalahan perusahaan yang terjadi. 
Peran dan fungsi humas dalam sebuah perusahaan sangatlah penting demi 
kemajuan perusahaan. Selain itu ditunjukan pula dengan tugas seorang humas yang 
harus mengabdi pada kepentingan publik, memelihara komunikasi yang baik antara 
publik intern maupun ekstern serta menjalankan fungsinya yang dititik beratkan 
kepada moral dan tingkah laku yang baik sehingga akan memberikan citra yang
positif terhadap perusahaan. 
Penilaian masyarakat terhadap sebuah perusahaan tentu tidak muncul secara
otomatis, hal ini membutuhkan waktu dan proses yang cukup lama. Salah satu 
contoh perusahaan yang bergerak di bidang jasa misalnya, tentu akan mendapat 
penilaian langsung, apakah pelayanan mereka sudah sesuai atau belum dengan apa yang di butuhkan oleh masyarakat, apakah air sudah mengalir sampai kerumah 
warga, apakah air PDAM itu tercemar dan apakah masih ada pencurian air. Tentunya 
masih banyak lagi pertanyaan-pertanyaan yang harus di jawab oleh perusahaan-
perusahaan atau intansi-intansi di Indonesia. 
Citra Perusahaan Daerah Air Minum (PDAM) Kabupaten Jayapura dimata 
masyarakat Jayapura dimana saat peneliti melakukan pra penelitian memang tidak 
dapat disimpulkan selalu baik, masyarakat Jayapura sering mengeluh terhadap 
pelayanan yang diberikan Perusahaan Daerah Air Minum (PDAM) Kabupaten 
Jayapura. 
Dari berbagai fenomena saat peneliti melakukan pra penelitian dapat 
diketahui bahwa banyak permasalahan yang berhubungan dengan kesediaan air 
bersih yang merupakan keluhan dari masyarakat Jayapura, diantaranya : 
1. Adanya saluran air yang tidak lancar bahkan tidak berjalan sama sekali, 
2. Sering air tercemar pada saat disalurkan pada pengguna. 
3. Air yang disalurkan terasa kaporit dan tidak enak diminum. 
4. Masih terdapat pencurian air, karena pipa yang disalurkan pada masyarakat sering 
macet, dan masyarakat melakukan penyambungan liar dari pipa induk penyaluran 
air bersih . 
5. Tagihan air tidak sesuai dengan meter. 
Dengan masalah tersebut maka sedikitnya mempengaruhi citra perusahaan 
tersebut, sehingga menjadi kurang baik citra PDAM Papua di mata masyarakat. 
Untuk mengatasi masalah-masalah dengan pihak eksternal, salah satunya 
meningkatkan citra perusahaan agar dapat terus terpelihara. Di instansi pemerintah 
maupun swasta memiliki bagian khusus yang bertugas menangani masalah tersebut, 
yaitu bagian Humas. Demikian juga dengan Perusahaan Daerah Air Minum (PDAM) 
Jayapura agar perusahaannya tetap terjaga, Perusahaan Daerah Air Minum (PDAM) 
Jayapura mempunyai bagian Humas. 
Bertolak dari latar belakang masalah diatas, dan dalam menangani masalah 
tersebut pasti akan menemukan hambatan dalam proses menyelesaikan masalah. 
Oleh karena itu perlu diadakan penelitian tentang PERANAN HUMAS DALAM 
MEMBANGUN CITRA PDAM JAYAPURA. Penulis memilih judul ini dimaksudkan untuk 
mengetahui sejauh mana peranan humas dalam membangun citra perusahaan.

    BAB II
    Tinjauan Pustaka dan Kerangka Teori 

2.I Konsep Humas 

A.Pengertian dan Definisi Public Relations (Humas) 

Aktivitas sehari-hari Hubungan Masyarkat atau Public relations adalah 
menyelenggarakan komunikasi timbal balik (two way communications) antara 
perusahaan atau suatu lembaga dengan pihak publik yang bertujuan untuk saling 
menciptakan pengertian dan dukungan untuk mencapai suatu tujuan tertentu baik 
itu dalam hal kebijakan, kegiatan produksi, barang atau pelayanan jasa dan lain 
sebagainya, demi kemajuan perusahaan atau citra positif bagi lembaga bersangkutan.

Humas adalah proses interaksi dimana humas menciptakan opini publik
sebagai input yang menguntungkan kedua belah pihak, dan menanamkan 
pengertian, menumbuhkan motivasi dan partisipasi publik, bertujuan menanamkan 
keinginan baik, kepercayaan saling adanya pengertian, dan citra yang baik dari
publiknya. 

Secara etimologis public relations terdiri dari dua kata yaitu : public dan 
relations. Dalam bahasa Indonesia, kata Public berarti public atau masyarakat dan 
relations adalah hubungan-hubungan. 
Jadi arti dari public relations adalah hubungan-hubungan dengan 
public/masyarakat. (Kustadi Suhandang 2004 : 29). 
Konsep humas menurut IPRA (Internasional Public Relations Association) 
adalah : 
"Fungsi Manajamen yang khas mendukung pembinaan dan pemeliharaan jalur bersama antara organisasi dengan publiknya mengenai komunikasi, pengertian, penerimaan dan Kerjasama" (Arifin,1998).

Pemahaman konsep dan pengertian humas itu seperti apa, bisa juga kita lihat 
pendapat dari ; (British) Institude of Public Relations (IPR) : 
"Humas adalah keseluruhan upaya yang dilakukan secara terencana dan 
berkesinambungan dalam rangka menciptakan dan memelihara niat baik (good-will) dan saling pengertian antara suatu organisasi dengan segenap khalayaknya "(Jefkins Daniel Yadin 2002 : 9)

J. C. Seidel menyatakan humas adalah proses yang kontinue dari usaha-usaha
manajeman untuk memperoleh goodwill dan pengertian dari para pelanggan, 
pegawainya dan publik umumnya ke dalam dengan mengadakan analisa dan 
perbaikan-perbaikan terhadap diri sendiri, ke luar dengan menyampaikan 
pernyataan-pernyataan. Selain itu humas juga berfungsi untuk menumbuhkan
hubungan baik antara segenap komponen pada suatu perusahaan dalam rangka 
memberikan pengertian, menumbuhkan motivasi dan partisipasi. Semua ini 
bertujuan untuk menumbuhkan dan mengembangkan Good Will (kemauan baik) 
publiknya serta memperoleh opini publik yang menguntungkan (alat untuk 
menciptakan kerja sama berdasarkan hubungan baik dengan publik).

B. Peranan Humas
Peran humas secara umum adalah : sebagai communicator atau penghubung 
antara organisasi atau lembaga yang diwakili oleh publiknya. Membina Relationship, 
yaitu berupaya membina hubungan yang positif dan saling menguntungkan dengan 
pihak publiknya. Peranan Back Up Management, yakni sebagai pendukung dalam 
fungsi manajemen organisasi atau perusahaan. Membentuk corporate image, artinya 
Public Relations berperan untuk berupaya menciptakan citra bagi organisasi atau 
lembaganya. 
Peran Humas mencakup internal public relations dan external public relations. 
Ruang lingkup yang terdapat pada external publi relations adalah (Rudy 
May,2005:86-88) :
a. Hubungan dengan pelanggan (customer relation), dimana hal ini mencakup
kegiatan-kegiatan seperti memberi member informasi kepada pelanggan atau 
nasabah, menjelaskan prosedur, tata cara, waktu penyelenggaraan acara. 
b. Hubungan dengan penduduk atau dengan masyarakat (community relations), hal
ini mencakup kegiatan membina hubungan baik dengan penduduk atau 
masyarakat sekurang-kurangnya meliputi penduduk disekitar organisasi atau 
lembaga yang bersangkutan. 
c. Hubungan dengan pers/media massa (press relation), hal ini mencakup kegiatan 
membuat kliping serta menganalisa opinion public (opini publik) atau aspirasi 
kelompok-kelompok tertentu. 
d. Hubungan dengan instansi-instansi pemerintah (government relation), merupakan 
salah satu peran humas yang mencakup penyelenggaraan hubungan komunikasi 
dua arah dengan instansi-instansi pemerintah (pemerintah daerah 
propinsi/kabupaten/kota/kepolisian/perusahaan dan lembaga.


C. Strategi Humas 
Mengacu kepada pola strategi Public Relations (1990) tersebut di atas, maka 
menurut Ahmad S. Adnanputra, Presiden Institut Bisnis dan Manajemen Jayakarta, 
batasan pengertian tentang strategi Public Relations adalah : 
"alternatif optimal yang dipilih untuk ditempuh guna mencapai tujuan public 
relations dalam kerangka suatu rencana public relations (public relations plan). 
Sebagaimana diketahui sebelumnya, public relations/Humas bertujuan untuk 
menegakkan dan mengembangkan suatu "Citra yang menguntungkan" (favorable image) bagi organisasi/ perusahaan, atau produk barang dan jasa terhadap para 
stakehodersnya sasaran yang terkait yaitu publik internal dan publik eksternal. Untuk 
mencapai tujuan tersebut, maka strategi kegiatan Humas/PR semestinya diarahkan 
pada upaya mengarap persepsi para stakeholder, akar sikap tindak dan persepsi 
mereka. Konsekuensinya, jika startegi penggarapan itu berhasil maka akan diperoleh 
sikap tindak dan persepsi yang menguntungkan dari stakeholder sebagai khalayak
sasaran. Pada akhirnya akan tercipta suatu opini dan citra yang menguntungkan. 
(Ruslan, 2003) 

Penggiatan tujuan dan target dari rangkaian perencanaan dalam metode 
Circle PR Programming & Communication yang akan dicapai tersebut bisa berupa 
"CITRA" atau "KEPERCAYAAN" dari publik sasaran atau masyarakat umum. Tujuan dan sasaran pokok tersebut harus realistis, bukan khayalan serta dapat diukur, baik 
secara kualitas maupun kuantitas, bermanfaat bagi semua orang atau individu, 
menyebutkan jangka waktu pencapaian dan jangka waktu berlaku. Tujuan sasaran 
tersebut dapat mengikat, baik untuk kepentingan organisasi dan publik internal 
maupun publik eksternal dan sebagai feedback-nya adalah dapat menciptakan citra 
positif. 

Metode rangkaian tahapan perencanaan, penggiatan dan komunikasi Circle
PR Progamming & Communication melalui rangkaian delapan langkah sukses 
perencanaan untuk pencapaian tujuan dan sasaran pokok perusahaan tersebut yang 
disusun secara sistematis dan logis. Terdapat unsur-unsur fleksibilitas dan dinamika, 
baik dalam keadaan perusahaan yang normal, untuk mengahadapi berbagai tantangan situasi dan kondisi suatu perencanaan, dan penggiatan komunikasi yaitu, 
mulai dari promosi, meluncurkan suatu produk barang dan jasa. Circle PR 
Programming dan Communication dapat dipergunakan untuk suatu "solusi" atau 
pemecahan (problem solving) mengahadapi krisis ketidak percayaan yang sewaktu-
waktu bisa terjadi pada setiap perusahaan atau organisasi. (Ruslan, 1999)


2.2 Konsep Citra 

A. Pengertian Citra 
Berbicara mengenai citra, mengapa citra menjadi begitu penting? Dalam 
Kamus Besar Bahasa Indonesia, pengertian citra adalah 1. Kata benda : gambar, rupa, gambaran; 2. Gambaran yang dimiliki orang banyak mengenai pribadi, 
perusahaan, organisasi atau produk; 3. Kesan mental atau bayangan visual yang 
ditimbulkan oleh sebuah kata, frase atau kalimat, dan merupakan unsur dasar 
yang khas dalam karya prosa atau puisi; 4. Data atau informasi datri potret udara 
bahan evaluasi. 

Jefkins dalam bukunya Public Relations (2003:20) menyebutkan beberapa 
jenis citra (image). Berikut ini lima jenis citra yang dikemukakan, yakni: 
1. Citra bayangan (mirror image). Citra ini melekat pada orang dalam atau 
anggota-anggota organisasi biasanya adalah pemimpinnya, mengenai 
anggapan pihak luar tentang organisasinya. 
2. Citra yang berlaku (current image). Suatu citra atau pandangan yang dianut oleh 
pihak-pihak luar mengenai suatu organisasi. 
3. Citra yang diharapkan (wish image). Suatu citra yang diinginkan oleh pihak 
manajemen. 
4. Citra perusahaan (corporate image). Citra dari suatu organisasi secara 
keseluruhan, jadi bukan sekedar citra antara produk dan pelayanannya. 
5. Citra majemuk (multiple image). Banyaknya jumlah pegawai (individu), cabang 
atau perwakilan dari sebuah perusahaan atau organisasi dapat memunculkan 
suatu citra yang belum tentu sama dengan citra organisasi atau perusahaan 
tersebut secara keseluruhan.
 
B. Citra Perusahaan 
Frank Jefkins dalam Ardianto dan Soemirat (2004 : 114), menyimpulkan bahwa 
secara umum citra diartikan sebagai kesan seseorang atau individu tentang suatu 
yang muncul sebagai hasil dari pengetahuan dan pengalamannya. Sementara 
menurut David A. Arker, John G. Mayer dalam Nova (2011 : 298) citra adalah 
seperangkat anggapan, impresi atau gambaran seseorang atau sekelompok orang 
mengenai suatu objek bersangkutan.
Salah satu jenis citra adalah citra perusahaan. Citra perusahaan ini 
terbentuk dari banyak hal, seperti misalnya dari sejarah atau riwayat hidup 
perusahaan yang gemilang, keberhasilan dan stabilitas di bidang keuangan, kualitas 
produk, keberhasilan ekspor, hubungan industri yang baik, reputasi sebagai pencipta 
lapangan kerja, kesediaan turut memikul tanggung jawab sosial dan komitmen 
mengadakan riset. Memiliki suatu citra perusahaan yang cemerlang dan positif, jelas merupakan keinginan dari setiap perusahaan, termasuk pula yang diinginkan 
Kantor PDAM Jayapura 
Citra perusahaan di mata publik dapat terlihat dari pendapat atau pola 
pikir pada saat mempersepsikan realitas yang terjadi. Citra perusahaan adalah adanya 
persepsi yang berkembang di benak publik terhadap realitas. Realitas dalam PR 
adalah aoa yang tertulis di media. Terbentuknya citra perusahaan karena adanya 
persepsi. Menurut Kotler dalam Nova (2011: 97) persepsi adalah pandangan 
seseirang dalam menafirkan suatu peristiwa berdasarkan informasi yang diterimanya. 
Untuk mendapatkan citra yang diinginkan, perusahaan harus memahami secara persis 
proses yang terjadi ketika publik menerima informasi mengenai kenyataan yang 
terjadi.
PR dalam menyampaikan pesan-pesan secara tepat sasaran mampu
menghimpun awareness dari public dan menumbuhkan citra positif dari publik 
terhadap perusahaan. Citra yang baik akan menumbuhkan reputasi yang baik pula 
dari suatu perusahaan.


2.3. Kerangka Teori 

A. Teori/Model Citra 
Bagian dari citra adalah sejarah dari citra itu sendiri. Citra merupakan 
serangkaian pengetahuan, pengalaman, perasaan, (emosi) dan penilaian yang 
diorganisasikan dalam sistem kognisi manusia, atau pengetahuan pribadi yang sangat 
diyakini kebenarannya. Mardi Jhon Harrowitz mengemukakan bahwa citra terbentuk 
pada struktur konisi manusia. Pendekatan yang digunakan adalah psikiatri. "Image is any though representation that has a sensory guality". 

Jefkins menyebutkan , an image is impression gained according to konwledge and understanding of facts. 
Wrong or incomplete information can result in imperpect image picture; Nimpoeno, 
mental representation (Winangsih-Syam, dalam Ardianto. 2009:20-21). 
Terdapat 10 klasifikasi citra, yaitu: (a) citra ruang; (b) citra waktu; (c) citra 
rasional; (d) citra perorangan; (e) citra nilai; (f) citra emosional; (g) citra kesadaran 
atau ketidaksadaran; (h) citra keyakinan atau ketidakyakinan; (i) citra dalam pribadi 
yang sesuai dengan citra yang ditunjukkan oleh kehendak orang lain (Boulding, dalam 
Ardianto 2009;26) 
Citra adalah peta Anda tentang dunia, anda akan selalui berada dalam 
suasana yang tidak pasti. Citra adalah gambaran tentang realitas dan tidak harus
selalu sesuai dengan realitas. Citra mencerminkan pemikiran, emosi dasn persepsi
individu atas apa yang mereka ketahui. Terkadang, persepsi diyakini sebagai relitas 
karena persepsi membentuk citra (image marketing) yang bukan sekadar bisa tampil elegan denga iklan atau menyatakan sebagai yang terbesar atau terbaik, melainkan - lebih dari itu -mengupayakan agar nama dan reputasi (perusahaan/produk) serta 
persepsi publik semakin positif, kumpulan citra di benak khalayak atau publik 
membentuk reputasi korporat (corporate reputation). Reputasi mencerminkan 
persepsi publik terkait tindakan-tindakan perusahaan pada masa mendatang 
dibandingkan dengan pesaing utamanya. Jadi, reputasi bisa baik atau buruk, besar 
atau kecil, kuat atau lemah (Alifahmi, dalam ardianto (2009;33)


BAB III
Metode Penelitian

3.1. Metode Penelitian Yang Digunakan 
Penelitian ini menggunakan metode deskriptif, Penelitian deskriptif hanya 
memaparkan situasi atau peristiwa dimana penelitian ini tidak mencari atau 
menjelaskan hubungan, tidak menguji hipotesis atau membuat prediksi (Rakhmat, 
2007 ). 
3.2. Populasi Dan Sampel 
Populasi dalam penelitian ini adalah seluruh pelanggan PDAM Jayapura 
dan jumlah pelanggan PDAM Jayapura berjumlah 28.250. 
Karena jumlah populasi besar maka penulis menggunakan rumus Taro 
Yamane untuk mengambil besar jumlah sampel dengan rumus : 
 N 
 n = tttttttt
 Nd² + 1 
Berdasarkan rumus taro Yamane untuk populasi 28250 pada taraf 
kepercayaan 10 % maka sampel adalah 99,8 sebagai berikut : 
N 28250 
n = ttttttttt = tttttttttttttttttttt
 Nd² + 1 (28250)(0,1)² + 1 
 28250 
 = ttttttttttttttttttttt
 (28250)(0,01) + 1 
 28250 28250 
 = tttttttt = ttttttttttttt
 282,5+1 283,5 
 = 99,7 = 100 

Berdasarkan Rumus taro Yamane maka besar sampel adalah 100 
Pelanggan,kemudian teknik pengambilan sampel secara acak sederhana. 

3.3. Variabel Penelitian Dan Definisi Operasional 
Yang mejadi variabel penelitian adalah variabel tunggal yaitu peranan 
humas dalam membangun citra PDAM Jayapura secara operasional didefenisikan
sebagai keikutsertaan humas dalam memberi informasi yang positif kepada 
pelanggan PDAM Jayapura, dengan indikator-indikator sebagai berikut : 
- Informasi 
- Pengetahuan 
- Frekuensi 
- Mencari Permasalahan 
- Mendengarkan keluhan 

3.4. Teknik Pengumpulan Data 
Untuk mendukung pengambilan data dalam penelitian ini digunakan teknik 
pengumpulan data dengan dua cara yaitu mengumpulkan data primer dan data 
sekunder. 
Data Primer : pengumpulan data yang digunakan melalui Daftar Pertanyaan 
yang dibagikan pada responden dan wawancara.
Data sekunder : data yang diperoleh dari Kantor PDAM Jayapura. Untuk 
mendapatkan data seperti setiap program dan informasi secara 
intern, dan juga hal lain yang berkaitan dengan penelitian ini. 
Data Kliping/artikel-artikel yang muncul di media massa laporan 
kemajuan perusahaan yang di anggap perlu. 

3.5. Teknik Analisis Data 
Untuk mendukung penelitian ini, peneliti menggunakan teknik analisis 
Statistik deskriptif, yaitu menganalisa secara prosentase dengan rumus sebagai 
berikut : 
 P = F /N X 100% 
Keterangan : 
P : Prosentase 
F : Frekuensi Jawaban 
N : Jumlah Responden 
IV. Hasil Penelitian dan Pembahasan 

BAB IV

4.1. Deskripsi Lokasi Penelitian. 
1. PDAM Jayapura 
Perusahaan Daerah Air Minum (PDAM) yang kita kenal sekarang muncul pada 
tahun 1943-1944 oleh Angkatan Darat Amerika Serikat. Pada tahun 1945-1963 
diganti kepemilikan oleh Pemerintah Kerajaan Belanda (Resident Water Staat Dienst) 
atau RWD. 
Dalam selang waktu satu tahun, pada tahun 1964-1983 Resident Water Staat 
Dienst (RWD) oleh pemerintah kerajaan Belanda di alihkan menjadi Dinas Pekerjaan 
Umum Kabupaten Jayapura. 
Tanggal 20 Agustus 1983, melalui Surat Keputusan Menteri Pu 
No.128/KPTS/CK/1983 Di bentuk Badan Pengelola Air Minum (BPAM) Kab. Jayapura. 
Dalam perkembangannya, tanggal 3 September 1984, melalui Surat Keputusan Bupati KDH Tk. II Jayapura Nomor : 188.4/97/1984, tentang Pengalihan Pengelola Air Minum 
dari DPU Kabupaten Jayapura kepada BPAM. 
Sejalan dengan perkembangannya Tanggal 20 Juni 1992 Status BPAM 
dialihkan menjadi PDAM Kabupaten Jayapura. Februari 2010, penandatanganan 
MOU tentang Pengelolaan Bersama PDAM antara Pemerintah Kabupaten Jayapura 
dan Kota Jayapura. 

PDAM Jayapura memiliki motto "Mengalir sampai ke hati" dan juga mempunyai visi " Menjadi perusahaan yang sehat dengan layanan Prima".

PDAM Jayapura berkantor pusat dengan alamat : Jl. Baru Kelapa II Entrop - 
Jayapura . No. Telp. (0976) 535941, 537924 Fax 0967 532461 (email : 
pdamjayapura@yahoo.co.id ).

4.2. Identitas Responden 

Pada bagian indentitas responden akan dikemukakan karakteristik responden 
berdasarkan, jenis kelamin,dan pekerjaan, sebagai berikut: 
Tabel 1 
Karakteristik Responden berdasarkan Jenis Kelamin 
Jenis Kelamin F % 
Laki-laki 33 33 
Perempuan 67 67 
Total 100 100 
 
Data tabel 1 menggambarkan bahwa bahwa responden didominasi oleh 
perempuan yaitu 67 (67%) dan laki-laki 33 ( 33 %) 
Tabel 2 
Karakteristik responden berdasarkan pekerjaan 
Pekerjaan F % 
PNS 44 44 
Swasta 56 56 
Total 100 100 
 Gambaran data tabel 2 menunjukkan bahwa pekerjaan didominasi oleh swasta 
yaitu 56 (56%), Dan PNS yaitu 44 (44%). 
Peranan Humas dalam membangun citra PDAM adalah : 
1. Selalu menginformasikan tentang perusahaan PDAM kepada pelanggan. 
2. Humas PDAM sering menginformasikan tentang PDAM kepada pelanggan, ini 
ditunjukkan dengan 51 % responden mendengar informasi tentang PDAM diatas 
3 kali . 
3. Ternyata 69 % responden menyatakan PDAM dalam memperbaiki citra selalu 
memberi informasi yang akurat dan benar tentang PDAM. 
4. 60 (60%) responden menyatakan Percaya Setelah mendengarkan informasi 
tentang PDAM dalam perbaiki citra perusahaan. 
5. 61 (61%) responden menyatakan PDAM selalu mendengarkan keluhan pelanggan.
6. 57 (57%) responden menyatakan humas PDAM selalu mencari permasalahan 
yang terjadi pada Pelanggan. 
7. 61 ( 61 %) responden menyatakan dengan adanya informasi mengenai PDAM dari 
humas banyak pengetahuan yang didapatkan pelanggan yang berkaitan dengan 
air bersih. 
8. Bahwa 55 (55%) responden menyatakan ketika mendapat permasalahan yang 
berkaitan dengan PDAM maka pelanggan bertanya pada kantor PDAM selalu 
dilayani. 
9. Bahwa 66 (66%) responden menyatakan ketika mendapat permasalahan yang 
berkaitan dengan PDAM maka pelanggan maka masalah yang terjadi dilapangan 
selalu diperhatikan oleh PDAM. 
10. Bahwa 77 (77%) responden menyatakan PDAM selalu memperbaiki citra 
perusahaan. 
Hal ini mengindikasikan bahwa ternyata humas PDAM selalu 
menginformasikan tentang perusahaan PDAM kepada pelanggan. Kesimpulannya 
ialah Humas berperan dalam membangun citra perusahaan PDAM Jayapura. 

BAB V

Kesimpulan dan Saran 
Berdasarkan hasil penelitian yang telah dikemukakan pada BAB IV maka dapat 
ditarik kesimpulan dan saran, sebagai berikut : 

5.1. Kesimpulan 
1. Pelanggan Pernah mendengarkan informasi PDAM dalam memperbaiki citra, 
informasi tersebut didengar pelanggan diatas tiga kali dalam sebulan. 
2. Dalam memperbaiki citra perusahaan humas PDAM memberi informasi yang 
akurat dan benar sehingga pelanggan percaya pada PDAM dan pengetahuan 
bertambah tentang PDAM. 
3. Humas PDAM selalu mendengarkan keluhan pelanggan dan humas memberi 
informasi kepada pelanggan secara tatap muka walaupun ada juga melalui 
media. 
4. Humas PDAM selalu mencari permasalahan dilapangan, kemudian melayani 
pelanggan, serta memperhatikan keluhan pelanggan. 
Kesimpulan secara keseluruhan bahwa humas berperan dalam membangun 
citra PDAM Jayapura. 

5.2. Saran 
Dari kesimpulan yang dijelaskan tadi mendapat beberapa poin penting untuk 
dijadikan masukan atau saran sebagai berikut : 
1. Disarankan untuk membangun citra maka perlu adanyan humas dalam 
menginformasikan perusahaan hal ini terlihat pada hasil penelitian peraan 
humas dalam membangun citra PDAM Jayapura. 
2. Disarankan dalam membangun citra perusahaan maka humas perlu 
memperhatikan Informasi yang akurat dan benar, selalu mencari permasalahan, mendengarkan keluhan, memperhatikan kebutuhan pelanggan 
serta seringnya informasi dilakukan hal ini terlihat pada hasil penelitian tentang 
peran humas dalam membangun citra perusahaan PDAM Jayapura.


Daftar Pustaka 

Ardianto, Elvinaro. 2010. Metodologi Penelitian untuk Public Relations. Simbiosa, 
Bandung. 
Arifin Anwar, 1998, Strategi Komunikasi, Armico, Bandung. 
Alston, Margareth and Wendy Bowles. 1998. Research for social workers : An 
introduction to methods. Australia: Allen and Unwin. 
Hadari, Nawawi, 1998, Metode Penelitian Sosial, Gadjah Mada University Press, 
Yogyakarta. 
Effendy, Onong Uchjana. Ilmu, Teori dan Filsafat Komunikasi. Cet. Ke-3. Citra 
Aditya Bakti: Bandung. 2003. 
Jefkins Frank, 2003. Public Relations 2003. Erlangga. Jakarta. 
Kustadi Suhandang, 2004, Public Relations Perusahaan (Kajian Program 
Implementasi), Nuansa. Bandung. 
Liliweri Alo, 1991, Komunikasi Antar Pribadi, Citra Aditya Bhakti, Bandung. 
May Rudy, Teuku. 2005, Komunikasi dan Hubungan Masyarakat 
Internasional, PT. Refika Aditama, Bandung. 
Mulyana, Deddy. 2000. Ilmu Komunikasi Suatu Pengantar. Bandung : PT. 
Remaja Rosdakarya. 
Nawawi, Martini Hadari. 1992. Instrumen Penelitian Bidang Sosial. 
Yogyakarta: UGM Press. 
Nova, Firsan. 2011. Crisis Public Relations : Strategi Public Relations Menghadapi 
Krisis, Mengelola Isu, Membangun Citra, dan Reputasi 
Perusahaan. Jakarta: Rajawali Grafindo Persada. 
Rakhmat , Jalaludin. 2000. Metode Penelitian Komunikasi (Dilengkapi dengan 
contoh dan analisis statistic). PT. Remaja Rosdakarya, Bandung. 
Ruslan Rosady, 1999. Manajemen Humas dan Manajemen Komunikasi, PT. 
Raja Grafindo Persada, Jakarta. 
Teguh Meinanda, 1981, Pengantar Ilmu Komunikasi dan Jurnalistik, Armico, 
Bandung. 
Widjaja. W. A., 1986, Komunikasi: dan Hubungan Masyarakat, Bina Aksara, 
Jakarta. 
Sumber data lain : 
UU No.32 Tahun 2004 Tentang Pemerintahan Daerah, UU No.5 Tahun1962 Tentang
BUMD (PDAM) 
Peraturan Pemerintah No.14 Tahun 1987 Tentang Desentralisasi Suplai Air Bersih, 
Peraturan Daerah No. 3 Tahun 1979 Tentang PDAM. 
Undang Undang No. 7 Tahun 2004 tentang sumber Daya Air dan Peraturan Pemerintah 
No. 16 Tahun 2005 Tentang Sistem Penyediaan Air Minum 
UUD No.207/Tahun 2002 tentang Keputusan Menteri Kesehatan.